Sejarah Asuransi Astra Buana

PT Asuransi Astra Buana didirikan pada tanggal 12 September 1956 sebagai perusahaan Asuransi Kerugian (General Insurance). Pada awal pendiriannya masih bernama PT. Maskapai Asuransi Buana. Pada tahun 1981 Astra International menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan mencapai 60 %. PT. Maskapai Asuransi Buana berganti nama menjadi PT. Asuransi Astra Buana (Asuransi Astra) pada tahun1990.

  •  12 September 1956. One step forward mulai ditapakkan. Di tanggal inilah PT Maskapai Asuransi Buana didirikan dan mengawali usahanya sebagai perusahaan asuransi kerugian (general insurance).
  • Tahun 1981. Harapan semakin berkembang dengan dimilikinya saham terbesar perusahaan oleh PT Astra International (AI). Diharapkan agar hal ini semakin memberikan semangat untuk memberikan yang terbaik dalam berkinerja.
  • Tahun 1985. PT. Maskapai Asuransi Buana membuka 1 cabang baru di kota Semarang.
  • Tahun 1990. PT. Maskapai Asuransi Buana berganti nama menjadi PT Asuransi Astra Buana (AAB). Penggantian nama dan logo ini semakin menguatkan afiliasi pada Astra Group, sebagai perusahaan yang dikenal memiliki posisi keuangan dan manajemen yang baik.
  • Tahun 1992. AAB membuka 1 cabang baru di kota Jakarta. Total cabang saat itu berjumlah 4 cabang.
  • Tahun 1994. AAB kembali membuka 2 cabang baru di kota Medan dan Makassar, sehingga total cabang berjumlah 6 cabang.
  • Tahun 1995. Pada tahun ini, 95 % saham perusahaan dimiliki oleh PT Astra International. Perusahaan juga meluncurkan produk asuransi mobil “Garda Oto” dan membuka 2 cabang baru di kota Jakarta dan Solo.
  •  Tahun 1996. AAB kembali membuka 3 cabang baru di kota Bogor, Palembang dan Denpasar.
  •  Tahun 1997. AAB meraih sertifikat ISO 9001 sebagai pengakuan atas kinerja dan komitmen yang berlandaskan pada kualitas. Di samping itu pula pada tahun ini juga dibuka 6 cabang baru di kota Jakarta, Tangerang, Bekasi, Cirebon dan Lampung. Sehingga AAB memiliki total cabang berjumlah 17 cabang.
  •  Tahun 1998. AAB mulai mere-organisasi internal perusahaan menjadi 2 bagian besar, yaitu Personal Line dan Corporate Line. Di samping itu pula, Garda Oto menjadi pionir dalam meng-cover kerusuhan bagi para pelanggannya. Kondisi bisnis yang semakin membaik, diantisipasi oleh AAB dengan membuka 5 kantor cabang baru di kota Pekanbaru, Batam, Purwakarta dan Yogyakarta.
  • Tahun 2000. Pada tahun ini, AAB semakin mempertajam visinya. Visi, misi dan core value perusahaan diperbarui dan diperkuat sebagai pegangan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Berbagai benefit diberikan kepada pelanggan Garda Oto, seperti : Garda Akses 24 Jam, Garda Siaga, website Garda Otodan Kartu Garda Oto Visa. Kondisi dan tampilan cabang pun diseragamkan.
  • Tahun 2001 – 2005. Berbagai pengakuan diterima oleh AAB sebagai bukti atas kinerja dan layanan yang memuaskan bagi pelanggannya. ICSA, IBBA, Best General Insurance, Green Company – Attestation of Assessment Certification, E-Company Award, Call Center Service Excellent Award dan MAKE Awardadalah sebagian dari penghargaan yang diterima oleh AAB sepanjang tahun 2001 s/d 2005.
  •  Tahun 2006. Inovasi untuk memberi yang terbaik kepada pelanggannya diwujudkan dalam peluncuran layanan Garda Q’Repair. Layanan ini memungkinkan bagi pelanggan yang kerusakan kendaraannya memenuhi syarat untuk diperbaiki dalam waktu 1 hari kerja. Terkait ulang tahun emas AAB, berbagai kegiatan bertema “Safety is Everybody’s Concern” diselenggarakan seperti : Safety Creativity, Safety Fun Rally, Safety Driving Course dan Safety & Fun Touring.

2. Produk commercial

Dalam waktu kurang lebih 4 tahun Asuransi Astra – Syariah mampu mencatat prestasi melalui penghargaan Islamic Finance Quality Award & Islamic Financial Award 2006 dan menjadikan Asuransi Astra – Syariah salah satu yang terbesar di Indonesia. Kekuatan finansial sebuah perusahaan asuransi salah satunya ditentukan oleh total aset yang dimilikinya.
1.Asuransi Syariah
Asuransi Syariah merupakan sistem saling memikul risiko diantara sesama peserta, sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas risiko yang muncul dengan prinsip saling tolong menolong dalam kebaikan dengan cara masing-masing menghibahkan dana Tabarru’ atau dana kebajikan. Dana tabarru’ tersebut dihibahkan oleh peserta kepada kumpulan dana peserta asuransi syariah dan pengelolaannya diamanahkan kepada perusahaan asuransi dengan membayarkan sejumlah fee atau ujroh yang dikenal juga sebagai dana milik pengelola.
Konsep tolong menolong antar peserta ini dalam asuransi syariah merupakan solusi untuk menghindari adanya ketidakpastian – unsur gharar akan terjadinya risiko dan besarnya risiko yang ada dalam transaksi jual beli asuransi konvensional yang berjalan saat ini.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: